Pemberdaya Gula Semut Dari Banyumas

Pemberdaya Gula Semut Dari Banyumas

Secara turun-temurun, sebagian warga Banyumas memilih bertani gula kelapa sebagai mata pencaharian mereka. Hal ini pula yang digeluti masyarakat Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Meski angka produksi gula di desa ini cukup tinggi, kehidupan para penderes (petani) gula kelapa masih jauh dari kategori sejahtera. Semedo bahkan pernah tercatat sebagai desa tertinggal.

Hal ini menjadi keprihatinan Akhmad Sobirin, pemuda kelahiran Desa Semedo, 29 tahun lalu. Meski berpendidikan tinggi, hati sarjana teknik mesin yang sempat bekerja profesional di Krakatau Steel ini tetap terpaut ke desa asalnya. Pada 2010, Birin, sapaan akrabnya, memutuskan pulang kampung untuk memajukan desa melalui jalan wiraswasta. “Sejak kuliah, saya memang sudah giat berwiraswasta. Saya lebih suka mandiri,” katanya.

Usaha Birin tak jauh dari bertani dan mengolah gula. Namun ia memperkenalkan produksi gula semut (kristal) kepada masyarakat karena terbuka peluang pasar ekspor dan lebih menjanjikan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia pun mengajak para petani mengubah proses skema produksi secara total dari semula produksi gula blok (batangan) yang prosesnya lebih sederhana. Birin melobi warga dengan cara bertamu dan berdiskusi dari satu dapur ke dapur pengolahan gula lainnya.

Perubahan proses produksi memerlukan perubahan perilaku para perajin gula. Awalnya, untuk memproduksi gula merah batangan, perajin umumnya menggunakan bahan pengawet. Air nira yang terkumpul sering kali harus menunggu sampai cukup satu wajan (per liter) sebelum diolah. Lebih dari 3 jam, air nira akan terfermentasi dan berubah menjadi asam. Hal ini disiasati dengan menggunakan pengawet.

Secara teknis, produksi gula semut juga berbeda dengan gula blok. Untuk gula blok, cairan nira dimasak sampai mengental, kemudian dituangkan ke dalam cetakan, lalu didiamkan sampai dingin dan membeku. Sedangkan untuk menghasilkan gula semut, ketika cairan nira yang dimasak mulai berwarna pekat, cairan harus diaduk sampai terbentuk kristal. Kristal ini kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari.

Selain itu, gula semut tidak bisa diproduksi dari gula blok. Gula yang telanjur dicetak tidak bisa diproses dengan teknik apa pun untuk menjadi gula kristal. “Kristalnya tidak akan bertahan lama, akan mudah menyerap air dan meleleh. Sedangkan kristal gula semut yang diproses dari awal dengan benar akan bertahan sampai setahun,” kata Birin.

Agar pembinaan kepada petani dan perajin gula efektif, Birin membentuk Kelompok Tani Manggar Jaya. Ia berperan melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap para petani gula. “Peran saya adalah mengakomodasi para petani,” katanya.

Berkat produk gula semut ini, penghasilan petani dan perajin gula Desa Semedo bisa meningkat. Ketika memproduksi gula blok, perajin dan petani hanya mendapat

Rp 5 ribu per kilogram. “Saat memproduksi gula semut, harga langsung naik menjadi Rp 12 ribu dan sekarang kami beli ke perajin R  p 20.50 0 per kilogram,” ujar Birin. Para petani dan pengolah gula kini memiliki posisi tawar yang baik terhadap pasar.

Lebih menggembirakan lagi, sekitar 90 persen pasar gula semut Desa Semedo adalah untuk kebutuhan ekspor. Ini merupakan hasil penerapan standar produksi yang ketat oleh para perajin. Di antaranya tidak boleh menggunakan bahan pengawet, memenuhi standar kekeringan (kadar air maksimal 2 persen), standar ukuran butir (ukuran 16-18 mesh), juga jumlah produksi yang cukup besar, yakni sampai 15 ton gula.

“EKSPORTIR GULA SEMUT JUGA MENERAPKAN STANDAR KEBERSIHAN. BIRIN PUN MEMPERKENALKAN KONSEP DAPUR BERSIH KEPADA PARA PERAJIN”

Eksportir gula semut juga menerapkan standar kebersihan. Birin pun memperkenalkan konsep dapur bersih kepada para perajin. Stok kayu bakar yang selama ini ditempatkan di atas perapian agar kering sekarang harus dipindah keluar. Hal ini untuk menghindari serpihan kayu masuk ke wajan pengolahan. “Dapur bersih harus diutamakan, dan harus lebih bersih daripada ruang tamu. Sekarang pemasangan tegel keramik putih bersih sudah mulai diterapkan di dapur,” ujarnya.

Guna memaksimalkan usahanya menyejahterakan petani dan pengolah gula semut, Birin mendirikan Koperasi Usaha

Bersama (KUBE) Manggar Jaya pada 1 Juni 2012. KUBE ini sekaligus menggusur para tengkulak yang selama ini merugikan para petani.

Di sini mulai muncul tantangan pada usaha Birin. Para tengkulak yang sudah puluhan tahun menguasai industri gula di desa tersebut merasa terusik. Meski tidak sampai terjadi penyerangan secara fisik, berbagai teror sempat menyasar Birin saat dia berusaha menghilangkan sistem ijon.

Kini kegiatan pemberdayaan makin dikembangkan Birin melalui Manggar Jaya hingga menyentuh ke desa-desa tetangga. Selain itu, pengembangan ekonomi produktif digalakkan, termasuk untuk produk-produk lain selain gula semut. Birin pun telah menjadi “pemanis” bagi desanya.

Mitra

Contact Us

Desa Semedo RT 05 RW 05 Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, KP 53164
semedomanise@gmail.com

08112511055

Social Media